Sebelum melangkah ke materi pada level 2 ini, pastikan Anda sudah memahami materi di level 1. Jika pada level 1 kita fokus mempelajari aspek Lughah (kebahasaan dasar Al-Qur'an), maka di level 2 ini kita akan naik ke level berikutnya, yaitu Fiqhul Lughah. Di sini, kita akan memperdalam dan memperhalus pemahaman yang sudah kita dapatkan sebelumnya.
Mari kita tadaburi Surah Yusuf ayat 2:
اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
Jika dirinci melalui pendekatan Fiqhul Lughah, maknanya adalah: "Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, agar kalian menggunakan akal untuk mengerti dan memahami ayat-ayat-Nya."
Kalau kita bagi ayat ini menjadi dua bagian, kita bisa melihat korelasi atau hubungan yang indah:
• "Inna anzalnahu qur'anan 'arabiyya": Secara kaidah bahasa dasar, kalimat ini sebenarnya sudah selesai dan benar.
• "La'allakum ta'qilun": Bagian kedua ini hadir sebagai penjelas di level yang lebih dalam. Kalimat ini menjawab pertanyaan: “Mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab?” Jawabannya adalah agar kita bisa benar-benar mengerti dan meresapi maknanya.
Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surah, dan ribuan ayat. Menariknya, setiap kalimat dan kata di dalamnya tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan. Hubungan erat antar-kata atau kalimat di dalam Al-Qur'an ini disebut dengan Irtibath.
Mengenal Seni "Iqtibas" (Mengutip Al-Qur'an dalam Sastra)
Pernah nggak kamu mendengar orang berpidato atau menulis status, lalu di dalam kalimatnya ada kata-kata yang rasanya familier banget seperti ayat Al-Qur'an, padahal dia lagi nggak berceramah agama? Nah, orang itu sedang memakai teknik sastra bernama Iqtibas.
Jenis-Jenis Iqtibas (Cara Mengutipnya)
Dalam praktiknya, para sastrawan atau pembicara memakai dua cara saat melakukan Iqtibas:
1. Iqtibas Utuh (Tanpa Mengubah Teks): Mengambil potongan ayat persis apa adanya, lalu ditempel ke dalam kalimat kita.
2. Iqtibas Modifikasi (Ada yang Diubah Sedikit): Memotong atau mengubah sedikit bentuk kata/kata ganti (dhamir) dari ayat asli agar pas dengan struktur kalimat baru yang sedang kita bikin, tanpa merusak esensi maknanya.
Berikut adalah beberapa contoh seni Iqtibas (kutipan potongan ayat Al-Qur'an) yang saking indahnya, kata-kata tersebut sudah sangat melekat di telinga kita dan sering dijadikan sebagai doa sehari-hari, baik setelah salat maupun saat mengobrol:
[1] DOA MEMOHON KEMUDAHAN (KISAH NABI MUSA) — QS. Taha: 25-28
Saat kita mau ujian, wawancara kerja, atau presentasi, kita sering menyelipkan potongan ayat ini ke dalam doa agar lidah tidak kaku dan urusan lancar.
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
"Dia (Musa) berkata, 'Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku'."
Aplikasi Penggunaan dalam Doa Bersama (Modifikasi):
رَبِّ اشْرَحْ لَنَا صَدْرَنَا، وَيَسِّرْ لَنَا أَمْرَنَا، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ أَلْسِنَتِنَا، يَفْقَهُوا قَوْلَنَا
Latin: Rabbisy-rah lanaa shadranaa, wa yassir lanaa amranaa, wahlul 'uqdatam min alsinatinaa, yafqahuu qawlanaa.
Artinya: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untuk kami dada kami, dan mudahkanlah untuk kami urusan kami, dan lepaskanlah kekakuan dari lidah kami, agar mereka mengerti perkataan kami."
*Keterangan Modifikasi: Kita mengubah sedikit bentuk kata ganti (dhamir) dari ayat asli akhiran ( ي ) saya, menjadi akhiran (نَا) kami agar sesuai peruntukannya.
[2] DOA "SAPU JAGAT" (DOA PALING POPULER) — QS. Al-Baqarah: 201
Kalimat ini sebetulnya merupakan kutipan langsung dari bagian akhir sebuah ayat tentang orang-orang yang beribadah haji.
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Dan di antara mereka ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka'."
Aplikasi Penggunaan dalam Doa Sehari-hari:
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: "Allaahumma aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar."
Artinya: "Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka."
💡 Kesimpulan:
Inilah bukti indahnya Al-Qur'an. Kata-kata yang Allah susun di dalamnya tidak hanya berfungsi sebagai bacaan ibadah, tapi susunan kalimatnya begitu pas, elegan, dan puitis sehingga manusia bisa langsung "meminjamnya" untuk mencurahkan isi hati dan harapan kepada Sang Pencipta.